5. PENANTIAN
Oleh: Satriani Kaseng
Kutitip salam rindu untukmu lewat semilir angin malam ini
Langit mendengar bisikanku yang kan tiba di serambi hatimu
Kusapa engkau tengadah melayang terbang ke ujung malam
Berkhayal mengembang mimpi bersama hadirnya rindumu
Berharap bahagia kan menempati ruang hatimu dan hatiku
Keheningan malam ini sepi menepis menguak rinduku
Ingin menatap senyuman indahmu yang kudekap erat
Lewat untaian rinduku bersama larut kelamnya malam
Kini kunyanyi merdu dan kulagu hati dan jiwaku
Berpulang di awal mimpi bahwa ragamu tak dapat hadir
Kunanti tetap engkau sampai ujung pengharapan jiwaku
Meski memaksaku mengalirkan air mata yang tiada kurancang
Berharap selalu sulaman kasih terpaut menghadiahi kemanisan
Menanam arti kebersamaan kita menyemai benih cinta kasih
untuk kelak mengisi ruang dalam episode kehidupan kita bersama.
Sumigo, 4 Oktober 2013.
6. PENANTIAN USAI
Oleh: Satriani Kaseng
Sepenggal masaku telah berlalu, sepanjang lorong-lorong waktu
Sekian saat kunanti hadirmu seiring asa kucoba betah dalam harap
Tahun berlalu kepergianmu kunanti kembali saat berpaling padaku
Telah kucoba menggapai hadirmu, namun tetap engkau tak teraih
Kini raga dan jiwaku telah lelah dalam sebuah penantian panjang
Engkau memberiku setangkai mawar penuh duri menusuk jiwa
Membuat luka dan harus melupakan asa yang pernah kau ungkap
Lorong waktu usai memberiku kebosanan atas harap dan impian
Semua tak dapat tergapai dan memaksa waktu harus melangkah
Laksana senja harus masuk peraduan dengan waktunya yang tepat
Kini kutelah lelah dan tak berani berharap untuk hadirmu kembali
Segalanya harus berlalu dengan langkah ke lorong waktu yang lain
Biarkan semua kenangan pergi dan menjadi cerita sepenggal waktu
Penantianku telah usai di ujung sebuah pengharapan untukmu
Semoga keputusan menjadi yang terbaik untuk langkah ke depan.
Sumigo, 4 Oktober 2013
Jumat, 04 Oktober 2013
Kamis, 03 Oktober 2013
Bahasa Hidupku
3. BAHASA KEHIDUPAN
Oleh: Satriani Kaseng
Kuhadir dari dunia pagi, kicau burung, dan embun
Angin membisikkan cerita kehidupan alam pedesaan
Telaga yang digenangi dengan air cinta kasih
Dari taman ke taman tercium wangi mawar melati
Kuberdiri di ujung cakrawala pagi
Bersama embun kuhayati dingin dan kediaman
Kumenyeru langit angkasa nan biru
Udara mengajarkan bahasa kehidupan
Kumenghitung hari-hari bersama sang waktu
Kelahiranku ditandingi bersama butiran embun
Angin mengasuhku bersama riak air menari
Kuminum air kehidupan bersama getah waktu
Ketika embun menimbunku agar kubermimpi
Telah datang gerimis membasahi memandikanku
Mengajariku memahami buku musim dan cuaca
Agar berbicara kepada hati dan bumi atas kesucian
Bersama rumput, butiran embun, dan kicau burung
Bersama angin, gerimis, dan riaknya air menari
Bersama keharuman mawar melati, dan getah sang waktu
Menyeru, memahami, dan mengajariku bahasa kehidupan.
Sumigo, 300913
4. BELENGGU CINTA ATAS NAMAMU
Oleh: Satriani Kaseng
Ketika aku mengenalmu hingga kini
Belum sanggup kumenembus semua rasa
Sejak hadirmu bercengkerama di sudut hati
Pohon cinta menjalar ikuti arus nadi
Otakku tak berdaya bergerak meleset dari namamu
Ketika engkau telah jauh pergi dariku
Buaian bunga-bunga rindu menari di angan
Telah engkau tinggalkan sebagai memory
Tak kuasa kumenghancurkan rasa ini
Karena cintaku terbelenggu atas namamu
Alangkah angkuhnya pintu yang tak menerimaku
Seluruhnya, semuanya, kecuali kenanganku
Pada sebuah perjalanan ruang dan waktu
Kenangan setiap saat teringat tentangmu
Karena cintaku terbelenggu atas namamu
Masih adakah yang dapat dipertanyakan?
Ketika musim semi telah pergi meninggalkanku
Di bawah bunga-bunga menua dan mentari senja
Kini kukembali di asal musim berpayung di tanganku
Tanpa meratapi semuanya kurelakan kepergianmu.
**Sumigo, di teriknya September 2013**
Oleh: Satriani Kaseng
Kuhadir dari dunia pagi, kicau burung, dan embun
Angin membisikkan cerita kehidupan alam pedesaan
Telaga yang digenangi dengan air cinta kasih
Dari taman ke taman tercium wangi mawar melati
Kuberdiri di ujung cakrawala pagi
Bersama embun kuhayati dingin dan kediaman
Kumenyeru langit angkasa nan biru
Udara mengajarkan bahasa kehidupan
Kumenghitung hari-hari bersama sang waktu
Kelahiranku ditandingi bersama butiran embun
Angin mengasuhku bersama riak air menari
Kuminum air kehidupan bersama getah waktu
Ketika embun menimbunku agar kubermimpi
Telah datang gerimis membasahi memandikanku
Mengajariku memahami buku musim dan cuaca
Agar berbicara kepada hati dan bumi atas kesucian
Bersama rumput, butiran embun, dan kicau burung
Bersama angin, gerimis, dan riaknya air menari
Bersama keharuman mawar melati, dan getah sang waktu
Menyeru, memahami, dan mengajariku bahasa kehidupan.
Sumigo, 300913
4. BELENGGU CINTA ATAS NAMAMU
Oleh: Satriani Kaseng
Ketika aku mengenalmu hingga kini
Belum sanggup kumenembus semua rasa
Sejak hadirmu bercengkerama di sudut hati
Pohon cinta menjalar ikuti arus nadi
Otakku tak berdaya bergerak meleset dari namamu
Ketika engkau telah jauh pergi dariku
Buaian bunga-bunga rindu menari di angan
Telah engkau tinggalkan sebagai memory
Tak kuasa kumenghancurkan rasa ini
Karena cintaku terbelenggu atas namamu
Alangkah angkuhnya pintu yang tak menerimaku
Seluruhnya, semuanya, kecuali kenanganku
Pada sebuah perjalanan ruang dan waktu
Kenangan setiap saat teringat tentangmu
Karena cintaku terbelenggu atas namamu
Masih adakah yang dapat dipertanyakan?
Ketika musim semi telah pergi meninggalkanku
Di bawah bunga-bunga menua dan mentari senja
Kini kukembali di asal musim berpayung di tanganku
Tanpa meratapi semuanya kurelakan kepergianmu.
**Sumigo, di teriknya September 2013**
Langganan:
Postingan (Atom)