7. GERIMIS MALAM
Oleh: Satriani Kaseng
Aku tiba di penghujung malam
Lelah jiwaku berjalan menggapai mimpi
Tak kan terpejam jua mata ini
Hingga dini hari menjelang
Semua karena senandung hujan
Memberikan cintanya malam ini
Tak kan pernah membiarkan cinta
Tercurah sia-sia bersama gerimis
Dalam jiwaku kudekap cinta
Hingga menggapai penghujung malam
Tangisan langit menjadi senandung
Mengantarkan buaian mimpi indah
Tentang kita berdua, tentangku dan tentangmu.
8. HADIRKU UNTUKMU
Oleh: Satriani Kaseng
Aku hadir untukmu cinta dan sahabat
Jalan lurus kutempuh dan kubasuh
Dengan tetesan sebening embun
Beserta sorot cahaya pagi berseri
Yang kupisahkan dari kabut dendam
Kugapai kedamaian di jiwa bersama
Dekapan cinta seputih melati sesetia merpati
Kita berdua, tentangku dan tentangmu
Dari kidung burung-burung
Sepiku terhenti di sebuah taman
Berjuta bel berdentang
Bercakap kepada hati dan bumi
Membasuh kedamaian di jiwaku
Di taman ini aku selalu menunggumu
Dalam puspa indah di taman hati
Bercerita berdua tentangku dan tentangmu.
Sumigo, 21 Desember 2013.
9. SKETSA JERITAN HATI
Oleh: Satriani Kaseng
Aku hanyalah pemeran tritagonis buatmu
Beberapa bait cerita pada sepenggal kisah
Pada hari-hari melelahkan masih kumampu
Melekatkan sabar pada ruang dan waktu
Semisal apakah aku di mata dan hatimu
Kutepis pertanyaan itu dalam diam tanpa kata
Aku melihat sarkasme tatapanmu untukmu
Ada hati tersayat berpadu luka dan duka
Aku tak mengerti jiwamu yang sering berubah
Kau menghadiahi aku mawar penuh duri
Tangisku dalam diam tenggelan di rasa kecewa
Sepertinya tak setetes kau sisakan rasa dahaga
Sebenarnya aku masih ingin berteduh di matamu
Tetapi licinnya pasirmu membuatku tiada betah
Semuanya menjelma menjadi sebuah permainan buruk
Lewat skenario yang kau rangkai, lakoni, dan sutradarai.
**suatu hari di bulan April***
10. UNGKAPAN SANUBARI
(cerpenku suatu hari di bulan Januari 12)
Aku telah menyaksikan pucuk senja ini penuh luka terasa mengiris kalbu. Mendung mengelilingi surya hingga menyembunyikan semburat jingga yang indah itu. Laksana aku dalam lingkaran pelaku-pelaku antagonis yang bersemayam dalam tahta kepalsuan kejujuran. Ketidakjujuranmu semua mengantarku pada pintu kerinduan yang harus aku tutup rapat-rapat, karena kuncinya tercecer pada pengkhianatanmu belaka. Wajahmu tertimbun kenangan pada perjalanan masa silam sebuah persahabatan. Aku begitu rapi menyimpannya sampai detik dan menit ini. Beberapa bait cerita pada sepenggal kisah tentangku dan tentangmu.
Aku tak pernah dianggap benar, itulah yang membuatku semakin jauh dari sebuah kebenaran hakiki. Kalaupun aku benar, itu hanyalah persoalan kebetulan bagimu semua. Sungguh berat rasanya ketika melihat wajah-wajah protagonis dan antagonis bersemayam dalam satu rupa denganmu. Aku pun tak bisa mengapresiasinya hingga aku terpuruk dalam satu bentuk ketersisian. Engkau tetap eksis dalam sebuah skenario yang tanpa berubah lakon. Menitiknya hingga pada garis kesempurnaan yang sifatnya abstrak. Sungguh tangan tak kuasa menggapai dan tak kuasa berucap melawanmu, tak kuasa berucap pada dimensi lain yang menerjemahkan dalam euforia keinginan pada kesendirian, dan di baliknya kamu semua tetap eksis pada duniamu.
Jika ada yang hidup dari keterasingan, itulah aku yang lahir dan hidup dari sudut yang paling sudut. Dalam hampanya jiwa lahir kejenuhan yang mengundang ketidakberdayaan melawan arus kekompakan para pelaku antagonis dan protagonis. Takdir terkadang mempertemukanku dengan sesuatu yang tidak diundang, memberikan apa yang tidak kurancang, memaksaku mengalirkan air mata kesedihan, membuat katarsis. Namun, takdir juga menerpaku dengan arti perkenalan baru, menyulam arti kasih sayang, menanan arti persahabatan, menghadiahi kasih sayang dalam kegembiraanku, menyemai benih keakraban, serta memberi peluang MENILAI SIAPA SAHABAT, SIAPA KENALAN, SIAPA LAWAN, yang mengisi ruang dalam episode kehidupanku dahulu, kini, nanti, hingga akhir.
Pada hari-hari melelahkan kumasih mampu melekatkan sabar pada setiap dimensi ruang dan waktu. Meski dalam menjalani hari-hari bersamamu semua, ada hati tersayat berpadu luka, luka atas segala sikapmu yang selalu berusaha memburukkanku di hadapan pelaku-pelaku tritagonis. Aku selalu melihat sarkasmemu dan bahasa ironi untukku. Semisal apakah hatimu itu? Kapan kau bisa menyadari jika telah menganiaya dan memenjarakan hati sesamamu? Aku bahkan menganalisa bahwa Tuhan telah menegurmu dengan caraNya, tetapi tetap saja tiada engkau semua menyadari kesalahan dan kekhilafanmu padaku. Oh, Tuhan!
Kucari tetap mentari di setiap lekuk kehidupanku,dengan kehangatannya akan menghilangkan kebekuan panjang musimku yang dingin dan berharap sang bayu menerbangkannya jauh berlalu bersama luka hatiku.
Yaa Allah, Yaa Rabbii....
Naikkanlah rezekiku satu derajat terhadap setiap kata dusta dan fitnah yang datang padaku!
Jika pun sesamaku telah memperlihatkan kekuatannya padaku, maka perlihatkanlah suatu masa kebesaranMu Yaa Allah! Karena Engkau Maha Adil dan Maha Bijaksana, Maha Pemelihara Kasih Sayang.
**Makassar, 31 Januari 2012, pada sepenggal kisah**
SATRIANI KASENG
Jumat, 17 Januari 2014
Jumat, 04 Oktober 2013
PENANTIAN
5. PENANTIAN
Oleh: Satriani Kaseng
Kutitip salam rindu untukmu lewat semilir angin malam ini
Langit mendengar bisikanku yang kan tiba di serambi hatimu
Kusapa engkau tengadah melayang terbang ke ujung malam
Berkhayal mengembang mimpi bersama hadirnya rindumu
Berharap bahagia kan menempati ruang hatimu dan hatiku
Keheningan malam ini sepi menepis menguak rinduku
Ingin menatap senyuman indahmu yang kudekap erat
Lewat untaian rinduku bersama larut kelamnya malam
Kini kunyanyi merdu dan kulagu hati dan jiwaku
Berpulang di awal mimpi bahwa ragamu tak dapat hadir
Kunanti tetap engkau sampai ujung pengharapan jiwaku
Meski memaksaku mengalirkan air mata yang tiada kurancang
Berharap selalu sulaman kasih terpaut menghadiahi kemanisan
Menanam arti kebersamaan kita menyemai benih cinta kasih
untuk kelak mengisi ruang dalam episode kehidupan kita bersama.
Sumigo, 4 Oktober 2013.
6. PENANTIAN USAI
Oleh: Satriani Kaseng
Sepenggal masaku telah berlalu, sepanjang lorong-lorong waktu
Sekian saat kunanti hadirmu seiring asa kucoba betah dalam harap
Tahun berlalu kepergianmu kunanti kembali saat berpaling padaku
Telah kucoba menggapai hadirmu, namun tetap engkau tak teraih
Kini raga dan jiwaku telah lelah dalam sebuah penantian panjang
Engkau memberiku setangkai mawar penuh duri menusuk jiwa
Membuat luka dan harus melupakan asa yang pernah kau ungkap
Lorong waktu usai memberiku kebosanan atas harap dan impian
Semua tak dapat tergapai dan memaksa waktu harus melangkah
Laksana senja harus masuk peraduan dengan waktunya yang tepat
Kini kutelah lelah dan tak berani berharap untuk hadirmu kembali
Segalanya harus berlalu dengan langkah ke lorong waktu yang lain
Biarkan semua kenangan pergi dan menjadi cerita sepenggal waktu
Penantianku telah usai di ujung sebuah pengharapan untukmu
Semoga keputusan menjadi yang terbaik untuk langkah ke depan.
Sumigo, 4 Oktober 2013
Oleh: Satriani Kaseng
Kutitip salam rindu untukmu lewat semilir angin malam ini
Langit mendengar bisikanku yang kan tiba di serambi hatimu
Kusapa engkau tengadah melayang terbang ke ujung malam
Berkhayal mengembang mimpi bersama hadirnya rindumu
Berharap bahagia kan menempati ruang hatimu dan hatiku
Keheningan malam ini sepi menepis menguak rinduku
Ingin menatap senyuman indahmu yang kudekap erat
Lewat untaian rinduku bersama larut kelamnya malam
Kini kunyanyi merdu dan kulagu hati dan jiwaku
Berpulang di awal mimpi bahwa ragamu tak dapat hadir
Kunanti tetap engkau sampai ujung pengharapan jiwaku
Meski memaksaku mengalirkan air mata yang tiada kurancang
Berharap selalu sulaman kasih terpaut menghadiahi kemanisan
Menanam arti kebersamaan kita menyemai benih cinta kasih
untuk kelak mengisi ruang dalam episode kehidupan kita bersama.
Sumigo, 4 Oktober 2013.
6. PENANTIAN USAI
Oleh: Satriani Kaseng
Sepenggal masaku telah berlalu, sepanjang lorong-lorong waktu
Sekian saat kunanti hadirmu seiring asa kucoba betah dalam harap
Tahun berlalu kepergianmu kunanti kembali saat berpaling padaku
Telah kucoba menggapai hadirmu, namun tetap engkau tak teraih
Kini raga dan jiwaku telah lelah dalam sebuah penantian panjang
Engkau memberiku setangkai mawar penuh duri menusuk jiwa
Membuat luka dan harus melupakan asa yang pernah kau ungkap
Lorong waktu usai memberiku kebosanan atas harap dan impian
Semua tak dapat tergapai dan memaksa waktu harus melangkah
Laksana senja harus masuk peraduan dengan waktunya yang tepat
Kini kutelah lelah dan tak berani berharap untuk hadirmu kembali
Segalanya harus berlalu dengan langkah ke lorong waktu yang lain
Biarkan semua kenangan pergi dan menjadi cerita sepenggal waktu
Penantianku telah usai di ujung sebuah pengharapan untukmu
Semoga keputusan menjadi yang terbaik untuk langkah ke depan.
Sumigo, 4 Oktober 2013
Kamis, 03 Oktober 2013
Bahasa Hidupku
3. BAHASA KEHIDUPAN
Oleh: Satriani Kaseng
Kuhadir dari dunia pagi, kicau burung, dan embun
Angin membisikkan cerita kehidupan alam pedesaan
Telaga yang digenangi dengan air cinta kasih
Dari taman ke taman tercium wangi mawar melati
Kuberdiri di ujung cakrawala pagi
Bersama embun kuhayati dingin dan kediaman
Kumenyeru langit angkasa nan biru
Udara mengajarkan bahasa kehidupan
Kumenghitung hari-hari bersama sang waktu
Kelahiranku ditandingi bersama butiran embun
Angin mengasuhku bersama riak air menari
Kuminum air kehidupan bersama getah waktu
Ketika embun menimbunku agar kubermimpi
Telah datang gerimis membasahi memandikanku
Mengajariku memahami buku musim dan cuaca
Agar berbicara kepada hati dan bumi atas kesucian
Bersama rumput, butiran embun, dan kicau burung
Bersama angin, gerimis, dan riaknya air menari
Bersama keharuman mawar melati, dan getah sang waktu
Menyeru, memahami, dan mengajariku bahasa kehidupan.
Sumigo, 300913
4. BELENGGU CINTA ATAS NAMAMU
Oleh: Satriani Kaseng
Ketika aku mengenalmu hingga kini
Belum sanggup kumenembus semua rasa
Sejak hadirmu bercengkerama di sudut hati
Pohon cinta menjalar ikuti arus nadi
Otakku tak berdaya bergerak meleset dari namamu
Ketika engkau telah jauh pergi dariku
Buaian bunga-bunga rindu menari di angan
Telah engkau tinggalkan sebagai memory
Tak kuasa kumenghancurkan rasa ini
Karena cintaku terbelenggu atas namamu
Alangkah angkuhnya pintu yang tak menerimaku
Seluruhnya, semuanya, kecuali kenanganku
Pada sebuah perjalanan ruang dan waktu
Kenangan setiap saat teringat tentangmu
Karena cintaku terbelenggu atas namamu
Masih adakah yang dapat dipertanyakan?
Ketika musim semi telah pergi meninggalkanku
Di bawah bunga-bunga menua dan mentari senja
Kini kukembali di asal musim berpayung di tanganku
Tanpa meratapi semuanya kurelakan kepergianmu.
**Sumigo, di teriknya September 2013**
Oleh: Satriani Kaseng
Kuhadir dari dunia pagi, kicau burung, dan embun
Angin membisikkan cerita kehidupan alam pedesaan
Telaga yang digenangi dengan air cinta kasih
Dari taman ke taman tercium wangi mawar melati
Kuberdiri di ujung cakrawala pagi
Bersama embun kuhayati dingin dan kediaman
Kumenyeru langit angkasa nan biru
Udara mengajarkan bahasa kehidupan
Kumenghitung hari-hari bersama sang waktu
Kelahiranku ditandingi bersama butiran embun
Angin mengasuhku bersama riak air menari
Kuminum air kehidupan bersama getah waktu
Ketika embun menimbunku agar kubermimpi
Telah datang gerimis membasahi memandikanku
Mengajariku memahami buku musim dan cuaca
Agar berbicara kepada hati dan bumi atas kesucian
Bersama rumput, butiran embun, dan kicau burung
Bersama angin, gerimis, dan riaknya air menari
Bersama keharuman mawar melati, dan getah sang waktu
Menyeru, memahami, dan mengajariku bahasa kehidupan.
Sumigo, 300913
4. BELENGGU CINTA ATAS NAMAMU
Oleh: Satriani Kaseng
Ketika aku mengenalmu hingga kini
Belum sanggup kumenembus semua rasa
Sejak hadirmu bercengkerama di sudut hati
Pohon cinta menjalar ikuti arus nadi
Otakku tak berdaya bergerak meleset dari namamu
Ketika engkau telah jauh pergi dariku
Buaian bunga-bunga rindu menari di angan
Telah engkau tinggalkan sebagai memory
Tak kuasa kumenghancurkan rasa ini
Karena cintaku terbelenggu atas namamu
Alangkah angkuhnya pintu yang tak menerimaku
Seluruhnya, semuanya, kecuali kenanganku
Pada sebuah perjalanan ruang dan waktu
Kenangan setiap saat teringat tentangmu
Karena cintaku terbelenggu atas namamu
Masih adakah yang dapat dipertanyakan?
Ketika musim semi telah pergi meninggalkanku
Di bawah bunga-bunga menua dan mentari senja
Kini kukembali di asal musim berpayung di tanganku
Tanpa meratapi semuanya kurelakan kepergianmu.
**Sumigo, di teriknya September 2013**
Selasa, 20 Agustus 2013
PUISIKU
1. TENTANGKU TENTANGMU
Oleh: Satriani Kaseng
Engkau adalah teman jiwaku yang hilang
Setengah dariku yang terpisahkan saat ditetapkan
Ketika aku memikirkan tentangmu
Hidup ini menjadi lebih indah dan bermakna
Jika Engkau pejamkan matamu
Kau akan memahami segala sesuatu
Melalui kedalaman jiwa bathinmu...
Biarkan angin sepoi-sepoi segar berhembus menujumu
Mengirim gejolak rindu dan cinta hatiku untukmu
Jika badai memisahkan kita di rumput tinggi samudera
Ombak-ombak akan menyatukan kita di pantai yang tenang
Jika kehidupan ini membunuh kita bersama
Maka kematian akan menyatukan kita dengan tenang
Demikian terpaut hati tentangku dan tentangmu.
Makassar, 12 Juli 2013.
(Milad pernikahan ke 15)
2. DINI HARI DI AWAL AGUSTUS
Oleh: Satriani Kaseng
Kuterjaga saat malam hening nan sepi
Kusandarkan sepiku bersama penantian
Menanti air kehidupan
Penyejuk dahaga di esok menjelang
Ketika malam bertambah larut
Saat sunyi nan sepi menikam rasa
Ada kedamaian mengetuk jiwaku
Saat Engkau mengirimkanku syair
Ketika deretan syair terbaca
Kukepakkan sayap-sayap kerinduan
Berharap angin malam menyampaikan
Pesan mimpi indah menemani tidurmu malam ini
Ketika sepenggal masih gelap selamat tidur
Masih ada waktu membaringkan ragamu
Meski telah datang dini hari
Namun terjagalah saat fajar menjelang.
Sumigo, 01 Agustus 2013.
Sabtu, 03 Agustus 2013
APRESIASI PUISI
Penjelasan tentang Apresiasi adalah menyenangkan tentang sesuatu yang pada hakikatnya telah dikenal sejak lahir (bayi). Mengapa demikian? Karena ia dapat merasakan, melihat, mendengar, termasuk apresiasi mendengar suara Ibunya. Kata apresiasi berasal dari kata "Appreciation" yang artinya adalah penghargaan. Secara gramatikal, pengertian penghargaan dapat diberi makna atau dijelaskan sebagai proses atau hal memberi harga atau menghargai. Proses pemberian harga terhadap suatu objek misalnya karya seni terlibat pula masalah proses mengobservasi, meneliti, menimbang mutu, nilai, kelebihan dan kekurangan objek itu. Kemudian kita sampai pada keputusan untuk menetapkan hasil dari penghargaan tersebut.
Pengertian Apresiasi Puisi adalah penghargaan atas karya sastra (puisi) sebagai hasil pengenalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penikmatan yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam karya puisi tersebut.
Tahapan Apresiasi Puisi :
1. Tahapan penikmatan/menyenang
Misalnya: Ibu meninabobokan anaknya. Tindakan operasionalnya adalah mendengarkan musik, menonton drama, membacakan novel/dongeng dan sebagainya.
2. Tahapan penghargaan
Tindakan operasionalnya adalah melihat kebaikan, nilai atau manfaat karya sastra serta pengaruh kedalam jiwa
3. Tahapan Pemahaman
Tindakan operasionalnya adalah meneliti dan menganalisis unsur-unsur Intrinsik dan Ekstrinsik suatu karya serta berusaha menyimpulkannya.
- Unsur Intrinsik, unsur yang membangun karya sastra yang berasal dari dalam yaitu tema, amanat, rima, ritme (termasuk pendekatan pragmatik, mimesis, ekspresif dari pengarang)
- Unsur Ekstrinsik, unsur yang membangun karya sastra yang berasal dari luar yaitu agama, ekonomi, sosial dan politik.
4. Tahapan Penghayatan
Tindakan operasionalnya adalah menganalisis lebih lanjut akan suatu karya, mencari hakikat atau makna suatu karya beserta argumentasinya dan membuat tafsiran, serta menyusun pendapat berdasarkan analisis yang telah di buat. Misalnya puisi "Malam Lebaran" (arti konotasi). Malam lebaran berarti kebahagiaan atau malam kegembiraan.
5. Tahapan Implikasi/Penerapan
Tindakan operasionalnya adalah melahirkan ide baru, mengamalkan penemuan, mendayagunakan hasil apresiasi dalam mencapai nilai material, moral dan spiritual untuk kepentingan politik, sosial dan budaya.
Langganan:
Postingan (Atom)