Jumat, 17 Januari 2014

7. GERIMIS MALAM
     Oleh: Satriani Kaseng
   
      Aku tiba di penghujung malam
      Lelah jiwaku berjalan menggapai mimpi
      Tak kan terpejam jua mata ini
      Hingga dini hari menjelang
      Semua karena senandung hujan
      Memberikan cintanya malam ini
      Tak kan pernah membiarkan cinta
      Tercurah sia-sia bersama gerimis
      Dalam jiwaku kudekap cinta
      Hingga menggapai penghujung malam
      Tangisan langit menjadi senandung
      Mengantarkan buaian mimpi indah
      Tentang kita berdua, tentangku dan tentangmu.

8.  HADIRKU UNTUKMU
     Oleh: Satriani Kaseng

     Aku hadir untukmu cinta dan sahabat
     Jalan lurus kutempuh dan kubasuh
     Dengan tetesan sebening embun
     Beserta sorot cahaya pagi berseri
     Yang kupisahkan dari kabut dendam
     Kugapai kedamaian di jiwa bersama
     Dekapan cinta seputih melati sesetia merpati
     Kita berdua, tentangku dan tentangmu

     Dari kidung burung-burung
     Sepiku terhenti di sebuah taman
     Berjuta bel berdentang
     Bercakap kepada hati dan bumi
     Membasuh kedamaian di jiwaku
     Di taman ini aku selalu menunggumu
     Dalam puspa indah di taman hati
     Bercerita berdua tentangku dan tentangmu.

     Sumigo, 21 Desember 2013.

9.  SKETSA JERITAN HATI
     Oleh: Satriani Kaseng

     Aku hanyalah pemeran tritagonis buatmu
     Beberapa bait cerita pada sepenggal kisah
     Pada hari-hari melelahkan masih kumampu
     Melekatkan sabar pada ruang dan waktu
   
     Semisal apakah aku di mata dan hatimu
     Kutepis pertanyaan itu dalam diam tanpa kata
     Aku melihat sarkasme tatapanmu untukmu
     Ada hati tersayat berpadu luka dan duka

     Aku tak mengerti jiwamu yang sering berubah
     Kau menghadiahi aku mawar penuh duri
     Tangisku dalam diam tenggelan di rasa kecewa
     Sepertinya tak setetes kau sisakan rasa dahaga

     Sebenarnya aku masih ingin berteduh di matamu
     Tetapi licinnya pasirmu membuatku tiada betah
     Semuanya menjelma menjadi sebuah permainan buruk
     Lewat skenario yang kau rangkai, lakoni, dan sutradarai.

     **suatu hari di bulan April***

10. UNGKAPAN SANUBARI
      (cerpenku suatu hari di bulan Januari 12)
 
      Aku telah menyaksikan pucuk senja ini penuh luka terasa mengiris kalbu. Mendung mengelilingi surya hingga menyembunyikan semburat jingga yang indah itu. Laksana aku dalam lingkaran pelaku-pelaku antagonis yang bersemayam dalam tahta kepalsuan kejujuran. Ketidakjujuranmu semua mengantarku pada pintu kerinduan yang harus aku tutup rapat-rapat, karena kuncinya tercecer pada pengkhianatanmu belaka. Wajahmu tertimbun kenangan pada perjalanan masa silam sebuah persahabatan. Aku begitu rapi menyimpannya sampai detik dan menit ini. Beberapa bait cerita pada sepenggal kisah tentangku dan tentangmu.

Aku tak pernah dianggap benar, itulah yang membuatku semakin jauh dari sebuah kebenaran hakiki. Kalaupun aku benar, itu hanyalah persoalan kebetulan bagimu semua. Sungguh berat rasanya ketika melihat wajah-wajah protagonis dan antagonis bersemayam dalam satu rupa denganmu. Aku pun tak bisa mengapresiasinya hingga aku terpuruk dalam satu bentuk ketersisian. Engkau tetap eksis dalam sebuah skenario yang tanpa berubah lakon. Menitiknya hingga pada garis kesempurnaan yang sifatnya abstrak. Sungguh tangan tak kuasa menggapai dan tak kuasa berucap melawanmu, tak kuasa berucap pada dimensi lain yang menerjemahkan dalam euforia keinginan pada kesendirian, dan di baliknya kamu semua tetap eksis pada duniamu.

Jika ada yang hidup dari keterasingan, itulah aku yang lahir dan hidup dari sudut yang paling sudut. Dalam hampanya jiwa lahir kejenuhan yang mengundang ketidakberdayaan melawan arus kekompakan para pelaku antagonis dan protagonis. Takdir terkadang mempertemukanku dengan sesuatu yang tidak diundang, memberikan apa yang tidak kurancang, memaksaku mengalirkan air mata kesedihan, membuat katarsis. Namun, takdir juga menerpaku dengan arti perkenalan baru, menyulam arti kasih sayang, menanan arti persahabatan, menghadiahi kasih sayang dalam kegembiraanku, menyemai benih keakraban, serta memberi peluang MENILAI SIAPA SAHABAT, SIAPA KENALAN, SIAPA LAWAN, yang mengisi ruang dalam episode kehidupanku dahulu, kini, nanti, hingga akhir.

Pada hari-hari melelahkan kumasih mampu melekatkan sabar pada setiap dimensi ruang dan waktu. Meski dalam menjalani hari-hari bersamamu semua, ada hati tersayat berpadu luka,  luka atas segala sikapmu yang selalu berusaha memburukkanku di hadapan pelaku-pelaku tritagonis. Aku selalu melihat sarkasmemu dan bahasa ironi untukku. Semisal apakah hatimu itu? Kapan kau bisa menyadari jika telah menganiaya dan memenjarakan hati sesamamu? Aku bahkan menganalisa bahwa Tuhan telah menegurmu dengan caraNya, tetapi tetap saja tiada engkau semua menyadari kesalahan dan kekhilafanmu padaku. Oh, Tuhan!

Kucari tetap mentari di setiap lekuk kehidupanku,dengan kehangatannya akan menghilangkan kebekuan panjang musimku yang dingin dan berharap sang bayu menerbangkannya jauh berlalu bersama luka hatiku.

Yaa Allah, Yaa Rabbii....
Naikkanlah rezekiku satu derajat terhadap setiap kata dusta dan fitnah yang datang padaku!
Jika pun sesamaku telah memperlihatkan kekuatannya padaku, maka perlihatkanlah suatu masa kebesaranMu Yaa Allah! Karena Engkau Maha Adil dan Maha Bijaksana, Maha Pemelihara Kasih Sayang.

**Makassar, 31 Januari 2012, pada sepenggal kisah**